Senin, 05 Juni 2023
Jumat, 19 Mei 2023
Setelah Dua Tiga Datang : Apakah ditahun ini kamu masih terlahir secara biologis?
Setelah Dua Tiga Datang : Apakah di tahun ini kamu masih terlahir secara biologis?
Menjadi sebuah kebutuhan intelektual membaca dianggap sebagai langkah awal untuk membuka gerbang dunia. Gak hanya dengan membaca dunia atau peristiwa. Dengan buku kita bisa memahami apa-apa yang belum kita ketahui. Salah satunya memahami apa yang ada di dalam dunia. Yaa, seperti yang akhir-akhir ini mimin lakuin. Selain karena memang tertuntut SKRIPSI. OWWW tidak mimin harus lebih banyak membaca bukuuu. Setidaknya alhamdulillah de, banyak ilmu, teori dannn realita yang seharusnya mimin sadari sejak dulu.
Okey dalam tulisan kali ini mimin bakalan sedikit cerita, sama ngasih spoiler salah satu buku mimin. Judulnya Nalar Kritis Muslimah Refleksi atas Keperempuanan, Kemanusiaan, dan Keislaman ditulis oleh Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. Buku yang terdiri dari tiga subbab ini merupakan kumpulan tulisan ibu Nur Rofiah mulai dari Story Wa, Fesbuk dan instagram. Sehingga mempengaruhi gaya kepenulisan yang baku namun sederhana dan renyah. Itu bagi mimin sih 🙂Buku dengan jumlah halaman 222 ini mimin rasa juga tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Jadi Recomended!! Buat klean-klean.
Nah, salah satu bagian yang mau mimin spoiler yakni tulisan dengan judul Sehari Dalam Setahun. Pas banget dengan janji mimin mau ngeluncurin tulisan dengan judul Setelah Dua Tiga Datang ( Jugaaa pas bangett mimin bacanya di halaman 130 dalam subbab kedua setelah Ulang Tahun mimin dongg :’)
Ada beberapa poin terpenting yang harus kita catat dalam tulisan ini yakni: kelahiran manusia yang ternyata nggak hanya sekali best. Konon katanya manusia bisa lahir berkali-kali. Kalau menurut bu Nur Rofiah dalam buku ini : pertama, manusia terlahir secara biologis. Jadi pas waktu pertama kali manusia dilahirkan ke dunia ini, itulah yang disebut kelahiran biologis. Kedua, kelahiran sosial. Ini ni yang mulai agak berat :v . Arti dari kelahiran sosial yakni ketika manusia mulai menyadari keberadaan orang lain. Hmm,, kalau mengaca dari teorinya om Freud si (wkwkw) manusia mulai mengerti orang lain semenjak ia memasuki tahap phalik yakni masa dimana seseorang mengenal dunia luar. Btw, kalau kamu udah mulai ngerti orang ganteng atau orang cantik bisa jadi udah ngerasain masa phalik. So, sejak kita terlahir secara sosial, maka sudah seharusnya kita mengerti dan paham bahwa manusia ialah makhluk sosial. Jangan jadi manusia yang cuman mau nya sendiri besti.. wkwkwk. Kalau nggak yaa, segeda apapun umurmu berarti kamu masih belum terlahir secara sosial. huhuhu :(
Selanjutnya kelahiran intelektual. Dikelahiran ini kamu dan aku (jadi kita dong) wkkwkw :v sudah memahami arti penting akal sebagai manusia. Dalam konsep kesholehan Sosial contohnya, bagi mimin manusia bisa dianggap udah sholeh sosial bilamana ia bisa menggunakan akalnya untuk hal-hal yang bermanfaat. Artinya manusia yang udah terlahir secara intelektual tentu ia sudah bisa menjadikan akalnya untuk hal-hal yang baik. Memberikan manfaat seluas-luasnya, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain. Sebab, manusia yang berintelektual dia gak hanya menang sendiri besti. Memikirkan kebaikan untuk diri sendiri itu bukan banget orang yang berintelektual. Catat ya! Dihalaman 89 Ibu Nur Rofiah menyampaikan
“ Menjadi baik itu harus. Tetapi merasa sudah baik apalagi merasa paling shaleh atau shalehah, jangan! Sebab nanti bisa berhenti berproses dan menjadikan diri sendiri sebagai standar shaleh tidaknya orang lain.”
Hhmm, sudah dipikir nih. Kira-kira kita sampai saat ini hanya terlahir secara biologis, atau sudah terlahir secara sosial tapi tidak berintelektual ? atau gimana gimana....
Terakhirr bingitt :) Yakni terlahir secara spritual. Kalau Cuma mengenal Tuhan, tetapi belum bisa mengimplementasikan kehidupan dengan keberadaan Restu Tuhan mah gampang. Seperti halnya lain dihati, lain pula dilisan. Terlahir secara spritual susah untuk kita ukur. Menghadirkan keberadaan Zat Allah dalam kehidupan kita. Yakin bahwa hanya dengan restu-Nya kehidupan dunia akan terjadi, sehingga senantiasa berbuat baik atas nama-Nya. Naudzubilllah semoga kita dijauhakn dari sifat buruk, lebih-lebih melakukan kejahatan atas nama-Nya.
Sebagai manusia yang udah diberi mandat sebagai Khalifah fil Ardh sudah sepantasnya kita untuk terus intropeksi diri dan berikhtiar. Kalau lahir secara biologis udah pasti, sekali seumur hidup. Maka kelahiran sosial, intelektual serta spiritual lagaknya harus kita upgrade selalu. Sebab kalau lahir secara biologis kita pasti dibantu oleh bidan, dokter, dukun :v (kalau masih ada si), tapi ketiga tipe kelahiran yang sifatnya dari kesadaran kita? seperti yang udah dibahas sejak tadi... Harus banget kita sadari setiap waktu. Jangan hanya nunggu setahun dengan momen ulang tahun. Btw mimin bersyukur banget karena sebenernya mimin baru sadar, dan untuk kedepannya harus selalu sadar. Sejauh ini mimin udah dilahirkan secara apa?
Untuk klean-klean yang udah baca tulisan ini, klean udah dilahirkan berapa kali nich? Ups :v Udah lahir secara sosial gak? Intelektual ? spritual? .. GAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BERUBAH KOK :v
Semangat, semangat terus untuk menjadi orang baik!
Jumat, 05 Mei 2023
Sebelum dua tiga datang.
Kamis, 20 April 2023
Hari Kartini
Secangkir Rindu
By Wike Atol Jannah
Sepucuk surat tiba,
merpati perantaranya.
Bersama jingga yang kian merona.
Ia berkata,
kertasmu telah usang tak berwarna,
berdebu bahkan menjamur.
Tapi mengapa ceritamu tak kunjung nyata?
Kamu telah mengutarakan segala keluh dan kesah dalam aksara.
Tapi, tak ada satu solusi pun yang terlaksana.
Aku tertegun,
berkhayal dalam lamunan.
Benar!
Aku terlena,
terlalu menikmati dunia.
Tak punya nyali tuk memberi warna,
Jangankan dunia, tuk hidup lebih bermakna saja tak ada.
Selalu saja hanya wacana.
Swastamita setengah baya,
kian meredup, bahkan lesu membuka mata.
Aku bersama secangkir rindu,
kuseduh kopi dalam-dalam,
kunikmati aroma dalam setiap teguk.
Tersenyum manis wanita disana,
habis gelap terbitlah terang.
Kuresapi makna setiap diksi
Ahh. Tak perlu disesali. Saatnya beraksi.
Lampau,
aku terlalu banyak rima dalam berbagai cerita.
Hingga lupa bahwa kini emansipasi sudah fakta.
Tak perlu takut tuk bernarasi panjang di depan orang-orang terkemuka.
Asal niat bakti terpatri kuat dalam rasa.
Juang berbingkai cinta.
Terbalut manis oleh asa.
Agar tak ada lagi, hanya sebuah kata yang tertulis.
Namun senyum manis dari hati terlukis.
Berwarna dalam setiap langkah taat yang dinamis.
Untukmu ibu.
Terimakasih, secangkir rindu
memberiku mimpi baru.
Tak hanya duduk melamun menikmati selalu.
Namun, kembali melangkah untuk maju.
21 April 2021.
Direvisi 21 April 2023.
Jumat, 13 Agustus 2021
Puisi : Terimakasih
1095 hari
Atsar kenang dari si Gagah tak bernyali
Tentang jarak,
Setiap menit yang terselip rindu
Namun, tak menuai temu
Perjumpaan kala itu
Tersirat salam hangat
Tentang,
Gelak tawa yang mencakrawalakan cerita
Meniadakan tangis yang sempat mengering
Mendamaikan dedaunan dengan syahdu
Akupun tersenyum.
Terimakasih
Atas kesekian menit dan detik
Pertemuan dua pasang retina
Tanpa aba-aba
Temu bukanlah obat
Rindu bukan pula penyakit
Namun, keduanya adalah cinta
Yang memberi tanpa kembali
Biarkan kehendak Tuhan yang menyampaikan
Bahwa candu membuatku rindu
Namun, takdir temu adalah impian
Yang tak harus di dapatkan
Sepatah dua patah kata dariku
Terimakasih
Tanpa kembali kasih
“pernah rindu”
Bondowoso_2020
Senin, 09 Agustus 2021
Essay : Bukan Soal Tubuh, tetapi Ruh
Bukan Soal Tubuh, tetapi Ruh.
“Selama berabad-abad peradaban manusia telah
membuat gambaran tentang perempuan dengan cara pandang ambigu dan paradoks.
Perempuan dipuja sekaligus direndahkan. Ia dianggap sebagai tubuh yang indah
bagai bunga ketika ia mekar, tetapi kemudian
dicampakkan begitu saja begitu ia layu. Tubuh perempuan identik dengan
daya pesona dan kesenangan seksual. Tetapi dalam waktu yang sama ia dieksploitasi
demi hasrat diri dan keuntungan materi…” ( KH.Husein Muhammad)
Perempuan adalah manusia sama halnya
laki-laki. Islam mendefinisikan perempuan sebagai makhluk Allah yang memiliki
banyak keistimewaan. Sebagai seorang anak perempuan merupakan emas permata bagi
kedua-orang tuanya, sebagai seorang isteri ia adalah sebaik-baik dari perhiasan
dunia dan sebagai seorang ibu ia adalah surga bagi anaknya. Perempuan
sebagaimana makhluk Allah dicipatakan sama halnya seorang laki-laki yang
dilengkapi akal untuk berpikir, naluri yang memiliki rasa dan tubuh yang juga
bisa bergerak dalam ruang dan waktu.
Dalam Masyarakat Arab tubuh
perempuan harus dilindungi dan ditutup rapat-rapat, sehingga banyak ditemui
hanya terlihat dua buah bola mata. Tubuhnya terlarang menantang laki-laki
karena konon dalam diri perempuan menyimpan sesuatu yang amat berharga.
Sehingga tubuhnya begitu ketat dalam tata tertib kehidupan. Ruang geraknya
sempit, karena kemanapun seorang perempuan keluar, maka semua akan terkontrol dari
ujung rambut hingga ujung kaki. Dalam konteks tradisi keagamaan, seluruh
perbincangan tentang tubuh perempuan merujuk pada dua kata sakti, yakni Qiwamah AL-Rajul (kepemimpinan
laki-laki) dan al-fitnah.[1]
Qiwamah
AL-Rajul (kepemimpinan laki-laki) kata ini disebut dalam teks suci yang
paling otoritaif (paling abash) bahwasanya dengan adanya kata ini relasi gender
dibangun di segala ruang dan waktu. Kata kedua al-fitnah dalam konteks gender sering kali dimkanai sebagai kata
yang menyudutkan perempuan sebagai sumber fitnah, sumber godaan hasrat, pemicu
kerusakan/kekacauan sosial, dan semua hal yang menjerumuskan laki-laki ke
jurang nestapa.
Pandangan bahwa perempuan sumber
petaka dan kesialan bagi laki-laki sesungguhnya tidak hanya diperbincangkan
oleh kalangan masyarakat Islam. Dalam dunia Eropa penganut agama Kristen juga
memperbincangkan hal yang demikian, bahwa perempuan juga dianggap sebagai
makhluk yang hanya pemuas hasrat dan selalu dianggap memiliki tingkah moral
yang kurang. Sehingga laki-laki harus mengawasi setiap tingkah laku perempuan,
dan perempuan diciptakan untuk taat terhadap laki-laki. St. Agustinus (354-430)
bapak spiritualitas dunia Barat, memgingatkan jamaahnya bahwa “melalui seorang perempuan dosa pertama
datang, dosa yang membawa kematian bagi kita semua”. [2]
Pandangan-pandangan
paradoks kemudian meningkat, ambigu sekaligus penuh nuansa merendahkan,
menguasai dan memberikan penindasan bagi kaum perempuan. Bahwa apa yang dilihat
dari Bunga yang mekar ini hanya hasrat dari tubuh, seks dan bilogisnya saja.
Sehingga pandangan ini disebut sebagai pandangan patriarkisme.[3]
Patriarkisme yakni paham yang menempatkan bahwa laki-laki pemegang kekuasaan
utama dan mendominasi dalam peran politik, sosial, budaya dan ekonomi. Faktanya
keadaan tersebut hanya akan terus menjadi beban bagi pergerakan perempuan.
Namun kenyataanya, setelah kita rasakan secara perlahan asumsi-asumsi yang
mengatakan perempuan selalu berada dibelakang layar, saat ini mulai berbalik
dan perempuan sebenarnya memiliki akal intelektual yang mampu menciptakan suatu
hal yang juga bisa menggagas dunia, jiwa perempuan juga bisa melukis dan
menari-nari, hati nurani yang bisa mencinta dan merindu, serta energy fisik
yang memberi dan mengabdi tanpa lelah untuk kehidupan dan bekerja bagi tanah
air. Terbukti dengan terbukanya dunia pendidikan terhadap perempuan serta
public yang juga menempatkan perempuan di posisi tinggi, seperti gubernur,
menteri, petinggi dsb yang membuktikan bahwa ia tak hanya menjadi pemuas hasrat
belaka, atau “babu” (bahasa kasarnya) yang
hanya dirumah saja.
Dalam sejarah yang panjang,
pandangan dan pikiran bahwa perempuan selalu
diperbincangkan oleh satu persoalan yakni tubuh, lambat laun akan
menggerus dan hanya akan melukai dan menghancurkan berjuta tubuh perempuan.
Sehingga akan mencabut ruh, jiwa, pikiran dan energi perempuan. Bangunan kokoh
yang seharusnya tinggi menjulang diguncang oleh kebutaan perempuan sendiri
akibat ribuan omong kosong yang hanya menjatuhkan intelektual yang cukup
mendalam.
Namun dewasa ini, dunia telah digemparkan
oleh gempuran-gempuran dahsyat dari kehidupan modern, kebudayaan dan
peradabannya. Sebuah sistem dimana demokrasi tidak lagi mengkambing hitamkan
perempuan dan tubuhnya. Hal ini merupakan sistem kehidupan bersama yang terbuka
bagi setiap individu sembari meniscayakan tanggung jawab dan penghargaan terhadap martabat manusia.
Sehingga diberikannya hak-hak terhadap kaum perempuan dalam kesetaraan gender.
Melalui hal ini maka perlu dibedah kembali bahwasanya gender tidak harus lagi bicara
soal tubuh manusia yang sejatinya telah tercipta sedemikian rupa anatominya
oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahwa laki-laki dan perempuan adalah makhluk kreasi
Tuhan.
Lantas ketika berbicara tentang
Gender, yakni tentang apa yang menggerakkan tubuh manusia. Hal-hal yang membuat
manusia mengaktualisasikan dan mengespresikan tubuhnya. Segala hal yang
menjadikan ia bisa memilih, menampakkan kegembiraan, suka dan duka hidupnya jika
bukan karena Ruh. Dengan kata lain, gender akan selamanya berbicara tentang ruh,
akal dan energi faktual yang ada dalam individu sehingga dapat dengan mudah
mengespresikan dan mengaktulisasikan dirinya dalam dunia.[4]
Bahwa sejatinya ruh-ruh perempuan sendirilah yang perlu dibangun dan
dibangkitkan, karena ruh akan terlahir dari hati yang suci dan bersih
Sebagai perempuan muda yang saat ini
telah banyak dijamu oleh berbagai literatur, terlebih Islam merupakan agama
yang terlahir sebagai rahmat alam semesta. Sudah sepantasnya kita mengidupkan
kembali ruh-ruh yang mulai hilang ini. Tidak ingatkah bahwa banyak sejarah atau
bacaan lampau yang menceritakan tokoh-tokoh penggerak dari kaum perempuan
sendiri. Telah terekam dalam kaset sejarah Islam bahwa perempuan memilki
kapabilitas dan integritas yang juga mampu dalam memimpin. Seperti Khadijah
Isteri Sang Nabi, yang merupakan direktur dan pebisnis kain terbesar pada
masanya, Aisyah-seorang istri Nabi-yang pernah memimpin dan menjadi panglima
perang, Asma binti Abu Bakar menjadi pemimpin keluarga yakni mencari nafkah di
publik. Disisi lain sebagai seorang istri yang senantiasa patuh terhadap sang
suami, kita bisa menilik bahwa terdapat salah seorang tokoh muslim sejati yang
tetap kokoh dengan perannya sebagai seorang isteri walau sang suami memiliki
sifat yang bertolak belakang. Asiyah tetap menghormati sang suami walau tidak
memimilki pemahaman yang sama, dan ia tetap tergerak hatinya dalam jiwa sosial
demi menyelamatkan bayi musa.
Maka sudah sepantasnya sekarang dan
kedepan untuk mencoba tidak mendiskriminasi dan melarang perempuan untuk
berdialog di depan publik, ataupun menjadi pemimpin Mengutip dari pendapat
Musdah Mulia bahwa ia mengatakan “menghadapi
dominasi nilai-nilai budaya Patriarki dan situasi diskriminatif agenda
perempuan dalam politik hendaknya dimulai dari kegiatan-kegiatan penyadaran.
Terutama merubah cara pandang dan pola pikir masyarakat tentang penting nya
menjamin kesetaraan, pemenuhan hak asasi manusia, supremasi hukum dan keadilan.”
Sebagai mana al qur’an dengan sangat
indah sekaligus mencengankan memberikan ruang terhadap perempuan: “Ba’dhahum ‘ala Ba’dh” (sebagian mereka
diatas bagian yang lain). Kitab suci ini tidak mengatakan:“seluruh laki-laki atas seluruh yang lain.” Maka dapat ditafsirkan
bahwa sepanjang orang baik laki-laki ataupun perempuan yang hendak
mengeksplorasi, mengembangkan, dan menjulang potensi dirinya dan ruang diluar
dirinya maka tidak ada yang menghalang-halanginya, karena keunggulan kapasitas
itu akan tampak terang benderang.
Dengan demikian sudah pantas dan
tepat untuk menggerakkan kembali ruh-ruh yang hilang tersebut. Sebagai
perempuan tentu kita tidak boleh memiliki semangat yang kecil, nyali yang surut.
Pertanyaanya jika demikian, layakkah seorang Ibu yang disebut-sebut sebagai madrastul ula bagi anak-anaknya tidak
memiliki ilmu dan pemahaman yang luas? Pengalaman yang berharga? Lalu apa yang
akan kita ceritakan pada anak-anak kita nantinya?
Salam pergerakan!
Tinggalkan Rebahan J
[1] Muhammad Husein, Haeruddin
Mamang, Mencintai Tuhan Mencintai
Kesetaraan, Jakarta : PT Gramedia 2014, hlm 88
[2] Anthony Synnott, Tubuh Sosial,Simbolisme,Diri dan Masyarakat,
, Yogyakarta: Jalasutra cet II 2007, hlm 72
[3] Muhammad Husein, Haeruddin
Mamang, Mencintai Tuhan Mencintai
Kesetaraan, hlm 90
[4] Muhammad Husein, Haeruddin
Mamang, Mencintai Tuhan Mencintai
Kesetaraan, hlm 93
Surat Cinta
Salam rindu untukmu wahai calon imamku
Teruntuk : Calon Imamku
Dari : Calon ma’mummu
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Duhai calon imamku...
Kata basmalah telah kuucap sebagai awal sapaan kita yang mungkin
baru pertama kali ini aku menyapamu melalui bait demi bait isi dari suratku.
Aku ditemani kawan ketik lampau yang masih baru saja kupegang dari
sekian lamanya. Belum lagi dengan
heningnya malam menjadi pelengkap batin ini untuk menyapamu. Sama halnya dengan suasana malam ini, aku ditemani Sang Murabbi dan kawan
ketikku tak bisa berbuat apa-apa selain dengan menyapamu lewat sepucuk surat
yang insya Allah Sang Maha Cinta sampaikan padamu.
Untukmu wahai calon imamku.
Rindu ini selalu memuncak, tak bisa kubendung bersama lantunan do’a yang sering kupanjatkan disetiap waktu. Entah dimanapun aku berada. Merinduimu adalah suatu hal yang tak pernah dipungkiri, datang secara tiba-tiba dan tak bisa kutolak kehadirannya. Merinduimu merupakan suatu hal yang istimewa bagiku, karena dengan itu aku mampu bertahan, bertahan dan bertahan untuk selalu mengharapkanmu dibanding dia yang belum pasti. Aku selalu ber-angan tentang keadaanmu disana, apakah kau baik-baik saja? Atau sedang apa kau disana? Jangan kan itu, aku pun sering bertanya bagaimana sifatmu? Apakah kau selalu di jalan-Nya? Dan apakah kau merinduiku? Bahkan apakah aku selalu kau hadirkan dalam do’a-do’amu? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu hadir dalam anganku ketika sangat merindui mu. Merinduimu sosok calon pendampingku. Iya kamu.... Yang aku tidak tau siapa namamu.
Pernah terlintas dalam fikiran bahwa apakah aku mungkin
telah bertemu denganmu sebelumnya? Berpapasan denganmu? Bahkan telah berbicara
dan merasa nyaman di dekatmu? Atau kamu adalah barisan dari teman-temanku waktu
upacara SD dulu, waktu MTs bahkan sekarang MA? Sayang teramat sayang, aku masih belum
menyadari bahwa kamu yang sering hadir adalah jodohku. Karena teka-teki Allah
sangat sulit untuk ditebak hingga aku tak bisa mengenalimu. Namun tenang
saja, walau aku tak pernah mengenalimu sekalipun sebelumnya, aku akan tetap
merindu dan tak mengurangi rasa cinta untukmu.
Untukmu wahai jodohku....
Berbicara tentang rindu, bolehkah aku bertanya satu hal
denganmu? Apakah salah bila aku
merinduimu? Iya merindui hadirmu.
Sering kali aku memanggilmu dalam setiap ucapan do’a. Memohon
untuk keselamatanmu. Merayu Allah agar melindungi mu jauh dari kehidupan yang
fana ini.. Meminta padaNya sebuah tali hubungan yang kuat sejak saat ini. Aku
juga tak sungkan pada Allah agar kau juga mendoakan ma’mummu ini tetap kuat
dan sabar dalam menunggumu. Karena diri tau dalam penantian ini akan banyak
lika-liku yang harus dilalui untuk segera bertemu denganmu. Aku
pun sadar, bahwa aku juga bukan perempuan hebat yang memiliki banyak
keistimewaan. Bila dibanding dengan mereka perempuan perempuan bermake up
cantik. Terkadang aku juga masih bersifat kekanak-kanakan dengan sifat manja
yang sering kulakukan. Maafkan aku yang seperti ini. Aku hanya
perempuan sederhana yang senantiasa akan menerima segala kekuranganmu di masa
lalu. Karena aku tak berhak menghakimi masa lalumu. Aku hanya melihat
bagaimana pola pikirmu kedepan. Karena yang aku tau dirimu lah yang berhak
menghakimi masa laluku.
Ketahuilah pula calon imamku, aku bukanlah perempuan yang istimewa.
Aku tak secantik dan selembut fatimah. Sekuat Khadijah dan setegar Aisyah. Aku
pun masih tak dapat dikatakan istiqomah dalam hijrah, namun akan selalu
berusaha untuk itu semua. Kubisikkan suatu hal padamu “aku hanyalah perempuan akhir
zaman yang senantisa berusaha untuk mengikuti jejak langkah beliau dan
keluargaNya agar bisa bersanding denganmu.” Menjadi pelengkapmu nanti untuk
membangun keluarga yang sesuai dengan ajaran sang Baginda Terkasih Rasulullah
SAW. Disini, aku akan berusaha untuk memantaskan diri agar tak malu dengan
bersandingnya akhlakku dan akhlakmu nanti.
Untukmu wahai calon pendampingku...
Itulah aku, dengan segala kekurangan berharap engkaulah
pelengkap hidupku, penenang sanubariku dan penyejuk mata dibalik sorotan wibawa
mu..
Duhai kekasih halalku yang namamu masih dalam rahasia Ilahi.
Tak ada yang dapat kulakukan untuk mencurahkan segala rindu yang
mengakar dalam kalbu selain meminta dan menyapamu lewat alunan syahdu do’a-do’a
di penghujung malamku pada Sang Ilahi Rabbi. Beribu-ribu rindu kusalamkan
padamu melalui Tuhan Sang Maha Rahiim. Maaf jika rinduku mungkin mengusik
waktu tidurmu kala itu. Maaf pula mungkin rinduku membuat mu merasa aneh pada
waktu itu. Ketahuilah itu semua kulakukan hanya untuk menguatkan sinyal antara
kita, agar tak ada rasa kaku saat pertemuan indah nanti. Karena setidaknya
kamu telah merasakan hadirku di sepertiga malammu. Begitupun aku yang juga
merasakan hadirmu di penghujung malamku dan Rabbku. Itulah harapanku wahai
pelengkap tulang rusukku.
Salam rindu dariku, untukmu kekasih idaman.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh.
Calon
isterimu....
Bondowoso kota Rindang. 2019


